Teks Ulasan Negeri 5 Menara
Negeri 5 Menara
Novel Negeri 5 Menara adalah sebuah karya fiksi yang
diangkat dari kisah nyata seorang penulis berbakat Ahmad Fuadi. Film ini
disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman dan di bintangi oleh Billy Sandy
sebagai Baso dari Goa, Rizky Ramdan sebagai Atang dari Bandung, Ernest Samudera
sebagai Said dari Surabaya, Jiofani Lubis sebagai Raja dari Medan, Aris Putra
sebagai Dulmajid dari Madura. Film ini diadaptasi dari sebuah novel dengan
judul yang sama.
Adanya Ustaz Salman yang mendadak punya posisi
signifikan dengan keberadaan Alif dan kawan-kawannya. Ustaz Salman selalu
tampil heroik ketika enam sekawan itu terjepit dalam situasi lemah. Di awal,
pengaruh Ustaz Salman begitu terasa nyata dengan kalimat menggugah: “Man Jadda Wajada”. Semangat yang di awal
begitu terasa menggugah hati keenam sahabat itu malah luruh begitu saja justru
di saat keenamnya tersebut makin akrab.
Namun ditengah keakraban mereka, Baso siswa asal
Gorontalo, mungkin menyisakan sedikit kesan yang berbeda jika dibandingkan lima
tokoh lainnya. Ia tampak sederhana, cerdas, dan bersahaja. Di balik
kesederhanaannya itu, ada sisi yang begitu menyentuh Alif dan kawan-kawan.
Diantaranya Baso sukses meredam emosi-emosi Alif atau teman-teman saat
menemukan perselisihan. Pada saat Baso harus kembali ke kota kelahirannya demi
mengurus neneknya yang sakit keras. Kelima kawannya mengelilinginya dengan
wajah sedih, nyaris berlinang air mata.Baso sebagai orang yang ditangisi
terlihat santai dan tidak menahan beban. Peranannya hanya memberi dampak pada
jalan cerita dan merekatkan tokoh-tokoh lainnya. Kelekatan para tokoh ini yang
akhirnya membangun kehangatan antarpribadi.
Momen yang satu per satu terjadi itulah yang membuat
adanya pertemuan rasa nyaman, persahabatan, dan juga nostalgia ambisi yang
dibangun lewat ansambel pemain film ini yang awalnya diambisikan oleh Baso.
Namun karena sosok Baso telah meninggalkan Pondok Madani, maka demi menghormati
harapan si Baso, 5 sahabat lainnya lah yang melanjutkan ambisi tersebut. Dan
hasilnya sangat memuaskan para penonton mereka.
Di akhir film ditampilkan keberhasil mereka berenam
berkat kerja keras dan kesungguhan mereka sesuai dengan prinsip yang mereka
jalankan belajar dengan keikhlasan dan mengamalkan “Man Jadda Wajada”.
Film Negeri 5 Menara disajikan dengan sangat baik,
karena memberikan pesan moral yang baik bagi penonton, akan tetapi masih
terdapat kelemahannya karena cerita terlalu banyak yang dipotong sutradara.
Sehingga cerita tidak tersampaikan dengan utuh. Banyak adegan-adegan yang ada
di dalam novel tidak disampaikan di dalam Film. Seperti: di dalam novel Alif
tidak ingin Sekolah di Pesantren tetapi ingin ke SMA, dan Ibunya tetap
bersikukuh menginginkan Alif sekolah di Pesantren. Kemudian Alif mendapat surat
dari Pamannya bahwa ada Pesantren di Jawa bernama Pondok Madani yang dapat
dijadikan pertimbangan Alif untuk melanjutkan sekolahnya. Lalu Alif pun
memenuhi keinginan Ibunya untuk sekolah di Pesantren tetapi dengan syarat dia
tidak mau sekolah di Pesantren Padang
tetapi ingin ke Pondok Madani. Mula-mula orang tuanya ragu akan tetapi karena
Alif bersikeras akhirnya mengizinkan. Berbeda dengan yang disajikan di film
karena di film justru orang tua Alif yang menginginkan Alif sekolah di Pesantren
Pondok Madani dan Alif sama sekali tidak menerima surat dari Pamannya. Itu
hanya salah satu contoh, karena banyak sekali cerita yang dipotong. Mungkin
sutradara sengaja memotong cerita karena kendala waktu tayang di bioskop yang
berdurasi hanya 1,5 jam atau 2 jam.
Secara keseluruhan, film ini sangat terasa begitu
akrab bagi penonton film Indonesia. Tentunya dengan formula mujarab ini
menginspirasi banyak orang mengenai persahabatan, keikhlasan, kesungguhan atau
kerja keras. Apalagi di Indonesia yang terdiri dari berbagai daerah dan suku
yang berbeda sangat cocok sekali untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
yang penuh dengan perbedaan. Selain itu, semangat yang dilandasi oleh
keikhlasan, dan kerja keras dalam film ini dapat memotivasi generasi muda untuk
lebih baik menentukan masa depan yang baik dengan pendidikannya.
Struktur
Kalimat
Orientasi
Novel Negeri 5 Menara adalah sebuah karya fiksi yang
diangkat dari kisah nyata seorang penulis berbakat Ahmad Fuadi. Film ini
disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman dan di bintangi oleh Billy Sandy
sebagai Baso dari Goa, Rizky Ramdan sebagai Atang dari Bandung, Ernest Samudera
sebagai Said dari Surabaya, Jiofani Lubis sebagai Raja dari Medan, Aris Putra
sebagai Dulmajid dari Madura. Film ini diadaptasi dari sebuah novel dengan
judul yang sama.
Penafsiran
Film “Negeri 5 Menara” berkisah tentang Alif, pemuda
yang menghabiskan hidupnya di tengah keluarga religius di Tanah Gadang. Ia
bermimpi menjejakkan kaki di Pulau Jawa dan masuk dalam barisan mahasiswa
sebuah kampus terfavorit di Bandung yakni ITB. Sayang, orang tuanya menganggap
sia-sia kalau sudah sampai di Jawa, Alif tidak menuntut ilmu agama. Jadilah
Alif seorang murid Pondok Madani. Untungnya, ada kelima sahabatnya yang sukses
membuat Alif sedikit kerasan di tengah peraturan yang mengikat dan kadang
terkesan konyol. Mereka dipersatukan oleh hukuman jewer berantai akibat
terlambat datang ke masjid, sehingga membuat Alif berteman dekat dengan Raja
dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan
Baso dari Gowa. Mereka
berenam selalu berkumpul di menara masjid dan menamakan diri mereka Sahibul
Menara alias para pemilik menara. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam
sering menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke
ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua
impian masing-masing.
Adanya Ustaz Salman yang mendadak punya posisi
signifikan dengan keberadaan Alif dan kawan-kawannya. Ustaz Salman selalu
tampil heroik ketika enam sekawan itu terjepit dalam situasi lemah. Di awal,
pengaruh Ustaz Salman begitu terasa nyata dengan kalimat menggugah: “Man Jadda Wajada”. Semangat yang di awal
begitu terasa menggugah hati keenam sahabat itu malah luruh begitu saja justru
di saat keenamnya tersebut makin akrab.
Namun ditengah keakraban mereka, Baso siswa asal
Gorontalo, mungkin menyisakan sedikit kesan yang berbeda jika dibandingkan lima
tokoh lainnya. Ia tampak sederhana, cerdas, dan bersahaja. Di balik
kesederhanaannya itu, ada sisi yang begitu menyentuh Alif dan kawan-kawan.
Diantaranya Baso sukses meredam emosi-emosi Alif atau teman-teman saat
menemukan perselisihan. Pada saat Baso harus kembali ke kota kelahirannya demi
mengurus neneknya yang sakit keras. Kelima kawannya mengelilinginya dengan
wajah sedih, nyaris berlinang air mata.Baso sebagai orang yang ditangisi
terlihat santai dan tidak menahan beban. Peranannya hanya memberi dampak pada
jalan cerita dan merekatkan tokoh-tokoh lainnya. Kelekatan para tokoh ini yang
akhirnya membangun kehangatan antarpribadi.
Momen yang satu per satu terjadi itulah yang membuat
adanya pertemuan rasa nyaman, persahabatan, dan juga nostalgia ambisi yang
dibangun lewat ansambel pemain film ini yang awalnya diambisikan oleh Baso.
Namun karena sosok Baso telah meninggalkan Pondok Madani, maka demi menghormati
harapan si Baso, 5 sahabat lainnya lah yang melanjutkan ambisi tersebut. Dan
hasilnya sangat memuaskan para penonton mereka.
Di akhir film ditampilkan keberhasil mereka berenam
berkat kerja keras dan kesungguhan mereka sesuai dengan prinsip yang mereka
jalankan belajar dengan keikhlasan dan mengamalkan “Man Jadda Wajada”.
Evaluasi
Film Negeri 5 Menara disajikan dengan sangat baik,
karena memberikan pesan moral yang baik bagi penonton, akan tetapi masih
terdapat kelemahannya karena cerita terlalu banyak yang dipotong sutradara.
Sehingga cerita tidak tersampaikan dengan utuh. Banyak adegan-adegan yang ada
di dalam novel tidak disampaikan di dalam Film. Seperti: di dalam novel Alif
tidak ingin Sekolah di Pesantren tetapi ingin ke SMA, dan Ibunya tetap
bersikukuh menginginkan Alif sekolah di Pesantren. Kemudian Alif mendapat surat
dari Pamannya bahwa ada Pesantren di Jawa bernama Pondok Madani yang dapat
dijadikan pertimbangan Alif untuk melanjutkan sekolahnya. Lalu Alif pun memenuhi
keinginan Ibunya untuk sekolah di Pesantren tetapi dengan syarat dia tidak mau sekolah di Pesantren Padang tetapi ingin
ke Pondok Madani. Mula-mula orang tuanya ragu akan tetapi karena Alif
bersikeras akhirnya mengizinkan. Berbeda dengan yang disajikan di film karena
di film justru orang tua Alif yang menginginkan Alif sekolah di Pesantren
Pondok Madani dan Alif sama sekali tidak menerima surat dari Pamannya. Itu
hanya salah satu contoh, karena banyak sekali cerita yang dipotong. Mungkin
sutradara sengaja memotong cerita karena kendala waktu tayang di bioskop yang
berdurasi hanya 1,5 jam atau 2 jam.
Rangkuman
Secara keseluruhan, film ini sangat terasa begitu
akrab bagi penonton film Indonesia. Tentunya dengan formula mujarab ini
menginspirasi banyak orang mengenai persahabatan, keikhlasan, kesungguhan atau
kerja keras. Apalagi di Indonesia yang terdiri dari berbagai daerah dan suku
yang berbeda sangat cocok sekali untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
yang penuh dengan perbedaan. Selain itu, semangat yang dilandasi oleh
keikhlasan, dan kerja keras dalam film ini dapat memotivasi generasi muda untuk
lebih baik menentukan masa depan yang baik dengan pendidikannya.
Kaidah
Kebahasaan
A. Kosakata
1. Signifikan : Yang dijadikan anutan; perbedaannya
kecil sekali
2. Durasi : Lamanya sesuatu berlangsung;
rentang waktu
3. Bioskop : Gedung tempat pertunjukan film
cerita
4. Ambisi : Keinginan (hasrat, nafsu) yang
besar untuk menjadi (memperoleh,
mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu
5. Nostalgia : Kerinduan (kadang-kadang
berlebihan), kenangan manis pada masa yang telah lama silam.
6. Heroik : Bersifat pahlawan
7. Pesantren : Asrama tempat santri atau tempat
murid-murid belajar mengaji dan pondok
8. Awan lembayung : Awan sore yang berwarna merah jingga
9. Inspirasi : Ilham
10. Religius : Bersifat keagamaan
11. Ansambel : Kelompok pemain musik (penyanyi) yang
bermain bersama secara tetap
12. Adaptasi : Penyesuaian thd lingkungan,
pekerjaan, dan pelajaran.
B. Istilah
Bahasa Asing
1. Man Jadda Wajada
2. Sahibul
C. Verba dan Nomina
Kata Dasar
|
Verba
|
Nomina
|
anggap
|
menganggap
|
anggapan
|
beri
|
memberi
|
pemberian
|
tuntut
|
menuntut
|
tuntutan
|
urus
|
mengurus
|
urusan
|
sentuh
|
menyentuh
|
sentuhan
|
patuh
|
memenuhi
|
patuh
|
nama
|
menamakan
|
penamaan
|
izin
|
mengizinkan
|
pengizinan
|
bangun
|
membangun
|
pembangunan
|
D. Antonim
Kata
|
Antonim
|
perbedaan
|
persamaan
|
kelemahan
|
kelebihan
|
persahabatan
|
permusuhan
|
melanjutkan
|
mengulang
|
lemah
|
kuat
|
memberi
|
meminta
|
mengizinkan
|
melarang
|
dipersatukan
|
dipisahkan
|
E. Sinonim
Kata
|
Sinonim
|
menatap
|
melihat
|
mengurus
|
memelihara/merawat
|
cerdas
|
pintar
|
F. Pronomina
1. Ia
bermimpi menjejakkan kaki di Pulau Jawa….
2. … di saat keenamnya tersebut makin akrab.
3. Kelima kawannya mengelilinginya dengan wajah sedih….
G. Konjungsi
a. Konjungsi Koordinatif
1. Mereka berenam selalu berkumpul
di menara masjid dan menamakan diri mereka Sahibul Menara alias para pemilik
menara.
2. Diantaranya Baso sukses meredam
emosi-emosi Alif atau teman-teman saat menemukan perselisihan.
3. … Alif tidak ingin Sekolah di
Pesantren tetapi ingin ke SMA ….
b. Konjungsi Subordinatif
1. … mungkin menyisakan sedikit kesan yang berbeda jika
dibandingkan lima tokoh lainnya.
2. Namun, karena sosok Baso telah meninggalkan
Pondok Madani, ….
3. … Pondok Madani, maka demi menghormati
harapan Baso, 5 sahabat lainnya lah yang melanjutkan ambisi tersebut.
c. Konjungsi Korelatif
1. Film Negeri 5 Menara disajikan dengan sangat baik,
karena memberikan pesan moral yang baik bagi penontonnya yang muda maupun
tua, ….
d. Konjungsi Antarkalimat
1. Akan tetapi masih terdapat
kelemahannya karena cerita terlalu banyak yang dipotong sutradara. Sehingga
cerita tidak tersampaikan dengan utuh.
H. Preposisi
1. Film “Negeri 5 Menara” berkisah tentang Alif,
pemuda yang menghabiskan hidupnya di
tengah keluarga religius di Tanah Gadang.
2. Ia bermimpi menjejakkan kaki di Pulau Jawa dan masuk
dalam barisan mahasiswa sebuah kampus terfavorit di Bandung yakni ITB.
3. Mereka dipersatukan oleh hukuman jewer berantai
akibat terlambat datang ke masjid.
4. Ernest Samudera sebagai Said dari Surabaya, Jiofani
Lubis sebagai Raja dari Medan
5. Pada saat Baso harus kembali ke kota
kelahirannya demi mengurus neneknya yang sakit keras.
6. Sehingga membuat Alif berteman dekat dengan
Raja dari
Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari
Bandung dan Baso dari Gowa.
7. Film ini sangat terasa begitu akrab bagi
penonton film Indonesia.
I. Artikel
1. Namun karena sosok Baso telah meninggalkan Pondok
Madani, maka demi menghormati harapan si Baso
J. Kalimat
Simpleks dan Kompleks
a. Kalimat Simpleks
1. … pemuda yang menghabiskan hidupnya di tengah
keluarga religius di Tanah Gadang.
b. Kalimat Kompleks
1. Mereka berenam selalu berkumpul di menara masjid dan menamakan
diri mereka Sahibul Menara alias para pemilik menara.
